Hampa?

Setiap tetesan air berbunyi gemericik merdu dalam keheningan. Tak satupun suara mereka yang senang bercanda tawa didepanku terdengar. Aku tak bisa menjamah topik konyolnya, apa guna. Di keramaian semu ini ku merasa sepi sendiri. Senyumku seolah meyakinkanku, aku disini tanpa kehadiranku. Bagaimana mereka bisa menikmati momen semacam ini. Sedangkan diriku tenggelam dalam pikiran kelamku. Tak ada yang berubah, sejak dari dulu pun aku semacam ini. Apa yang ingin aku gapai? apa ada?


Aku tak tertarik untuk berbohong, tak tertarik membual dan beralasan. Semua yang terjadi, ya begitulah adanya. Tak ada yang menarik dari ini semua. Seringkali aku tidak membahas 'diriku', mana ada yang peduli sebabnya. Tak apa, semua ini terus begini sejak dahulu. Mulai terbiasa. Kesulitanku mengolah ribuan kata yang terpikirkan setiap detiknya. Membuatku tak mengatakan sepatah katapun. Jika saja pikiranku bisa didengar, aku pasti orang paling berisik.

Terakhir kali aku menikmati 'waktu' ini telah pergi. Mungkin saja baru kedua kalinya perasaanku bergema karena bahagia. 20 tahun hanya untuk itu. Apa yang aku nikmati jika semua hampa dan tak berasa. Usaha keras yang menghasilkan hadiah yang pantas, tidak membuat hatiku merona. Semuanya terasa sama, hampa, kosong, entah apa artinya. Bahkan untuk kedepannya, aku tidak punya alasan apapun. Untuk hidup damai dan akhir yang bahagia. Aku tidak tertarik untuk itu semua.

Kepercayaanku mengatakan, kebahagiaan sesungguhnya ada disana. Suatu tempat dengan bidadari dan segala keinginan. Aku bahkan tidak mengerti apa yang aku inginkan sebenarnya. Bidadaripun sepertinya terdengar biasa saja. Bila hanya untuk teman dan nafsu yang palsu tiada guna. Apa aku perlu? Bahkan mungkin aku hanya tersenyum palsu tanpa mengerti dan menikmatinya. Ketenangan? Tujuan? Semangat? Demi apa? Hidup tidak terasa berat. Setiap masalahnya bisa diselesaikan bukan? Tapi kehampaan ini bukan sebuah masalah, aku memang hidup didalamnya. Entah sejak kapan, walau sudah terbiasa... apa sejatinya?

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright (c) 2016 Perlukah dibaca?.