Semoga kamu benar-benar tempatku pulang vice versa.
Ketika hari secara bergantian tak berarti apa apa, jangan terima begitu saja dan bohongi dirimu. Selama aku ada dalam tempatku, kamu tak perlu memaksakan apapun.
Namun begitu kita menyerah. Hanya ada jalan buntu yang membuatmu semakin terpuruk.
Pertanyaannya tetap sama meskipun pagi berganti malam. Itulah setiap kesalahan yang perlahan memecah belah keinginan hidupku.
Bisa beri tau aku?
Apakah hal yang kau inginkan itu mungkin?
Pernakah kau merasa terperangkap dalam pikiranmu sendiri?
Jika iya, jangan berpura-pura di hadapanku. Atau aku akan menghukum perasaanmu lebih dalam.
"Dengan aku disini. Tak ada yang perlu kau lalui lagi. Cukup berhentilah"
Semua yang terbilang indah maupun buruk tak ada perbedaan cara untuk menghadapinya.
Waktu akan terasa lambat dalam saat kau butuhkan.
Aku akan selalu ada dalam pikiranku sendiri melebihi siapapun memikirkan segala hal nya.
Kau tunjukkan caramu...
Memaksaku menemukan caraku sendiri dalam berbagai sudut pandang yang tak pernah kulihat. Hanya saja rasa penasaranku, seperti apa diriku terlihat dari matamu itu? dengan rasa lelah ini, tetesan keringat yang entah air mata pula inipun ku bawa sendiri.
Ku buka jendela dan menatap langit malam tuk berkata
"Sudahlah..."
Sendiri di antara dinding, tak ada lain hanya aku
Sebuah scene dalam fiksi cerita dimana kondisi karakter utamanya tenggelam, pingsan, maupun menyerah.
Di dalam ruang gelap yang entah dimana itu, ada saja karakter sekitarnya yang memanggilnya. Mendorongnya keluar dari tempat itu, bahkan dengan kata-kata yang sangat tidak masuk akal. Kejadian seperti itu memang ada.
Terlelap, sekeras apapun gejolak kata hatiku
Ku harus kembali sekaarang...
"Oh~ Terserahlah, bila kau tidak ingin kembali" itu mantra yang kudapati.
Dan meskipun ku tak mengerti dirimu yang berkata, ku bimbang
"Lihat, Maafkanku tapi kan kulalui, tak ada harapan yang nyata dari manusia"
Ku akui, ku merasa hal yang sama. Tapi, apa yang membuatmu berfikir baik-baik saja tuk bicara? Khayalan, Kenyataan yang ku tutupi setiap hari. Dan lagi ku tak dapat berkata, sebuah kalimat yang kuhilangkan lagi
Ku tersandung segalanya, mencoba tuk tetap hidup tanpa kemauan
Katakan padaku mengapa kau simpan sendiri?
Katakan padaku ketakukan dirimu pada kebebaskan pikiran?
Katakan padaku jika kau tak ingin bertemu
Katakan padaku apakah itu nyata?
Ruangan gelap itu disebut "Ketakacuhan"
Luka yang mengisi paru-paruku dan kuhampir tak bernafas. Pada akhirnya, kubutuh mendengar seseorang bicara...
Tertekan dan kesakitan seolah ku ditarik kehampaan
Kepalaku terasa berat, dan hatiku terasa tenggelam perlahan
"Adakah alasan untukku pergi dan menyelesaikannya?"
Maaf, maaf, kutahu itu egois
Ku yakin tidak mampu melakukannya, hanya perlu berusaha melaluinya. Jadi, dengan itu, maukah kamu membiarkanku?
Dan jika usaha yang kulakukan tak menyisakan jati diriku
Apa yang kamu harapkan tuk aku lakukan? Apa yang kamu inginkan dariku?
Katakan padaku, kenapa kau merasa seperti pecundang?
Katakan, apakah kamu ingin melampauinya?
Katakan, siapakah yang membuat tanganmu berpihak?
Katakan padaku keputusanmu?
Andai hidupku berakhir tanpa sepengetahuanku, lalu kapan aku bisa mulai hidup, dan belajar melerakannya?
Ku perlahan mencapai batasku, lantas mana jatahku tuk bertahan dalam hidup ini?
"Terima kasih" Ku sangat berterima kasih atas apa yang telah kamu lakukan
Dan biarpun hanya sekali bisa kukatakan
Terlepas dari apapun yang terjadi, dalam diriku
Ku berusaha, jadi ku harus terbuka dan berterima kasih
Sampai akhirnya aku mendengar suaramu dan segala hal tentangmu darimu.
"Pulanglah... Katakan semua yang kamu rasakan padaku, biarkan saja. Karena jika kamu membiarkannya terkunci dalam dirimu, ku tak kan pernah tahu. Semua pikiran di dalam kepalamu, aku ingin mendengar semuanya. Pulanglah padaku..."
Semoga kamu benar-benar tempatku pulang vice versa.






0 komentar:
Posting Komentar